Dah lama bgt ga pernah ngeblog. Blog ini jadi terlantar. Jangankan posting, blogwalking aja ga sempet. Beberapa minggu ini kerjaan banyak bgt. Bunkan cuma waktu yang terbuang tapi stamina juga. Akibatnya sekarang kalo di rumah lebih banyak istirahatnya daripada ngerjain yang laen. Langsung aja ke topik utama. Kali ini ada sebuah cerita yang terjadi di kawasan pasar Lawang. Ini fakta, ini nyata dan ada di sekitar kita…

Hari Sabtu kemaren aq beserta rombongan guru SMPN 5 Sidoarjo makan siang di sebuah waroeng terkenal yang berada di pasar Lawang. Waroeng “Mungil” namanya, tapi tempatnya ga semungil namanya lho. Sambil menanti makanan dihidangkan aq iseng-iseng nge-shoot ambil gambar-gambar ga jelas, namanya juga iseng. Mumpung lagi bawa kamera sama handycam nge-shoot kesana-kemari nyari sesuatu yang gokil. Awalnya ada 3 cewek di emperan toko, pengen ambil gambarnya tapi malu ah. Ntar kalo ketahuan gimana. Akhirnya saya menemukan sebuah moment yang menyita perhatianku.

Pengemis dan Gerobak Sampah
Pasar Lawang 5 April 2008

Pengemis dan Gerobak Sampah
Pasar Lawang 5 April 2008

Jadi ngerasa gimana gituh.. aq disini makan enak, di warung yang terkenal pula. Tapi si “Mbah” pengemis itu mengoyak gerobak sampah mencari sesuatu yang masih bisa dia manfaatkan. Bayangin betapa bau & menjijikkannya tuh sampah. Dan lebih menusuk hati lagi ketika si “Mbah” pergi meninggalkan gerobak tanpa ada hasil apapun. Aku sangat bersyukur masih bisa makan enak. Ga bisa bayangin deh betapa rekosonya si “Mbah” menjalani kehidupannya.

Lalu apa artinya UUD 1945 pasal 34 “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Negara yang mana? Republik BBM? ato Republik mimpi?

Maka dari itu aku sangat setuju sekali sama sebuah acara realityshow di sebuah stasiun TV Surabaya, JTV sebuah stasiun televisi di bawah naungan Jawapos Group. Nama acaranya Ojok Ngemis Po’o setiap hari Minggu jam 19.30 WIB, berkisah seorang pengemis di sekitaran Surabaya yang diberi jalan untuk memperoleh pekerjaan lain yang lebih layak agar tidak mengemis lagi. Semoga ada dermawan-dermawan lain yang mau membantu mereka yang kurang beruntung. Kalo bukan kita, lalu siapa? Nunggu negara? Kelamaan…